Timor Leste 2020 Berambisi Seperti Dubai yang Kaya Minyak Realita Masih dilanda Kemiskinan
Timor Leste yang lebih memilih memisahkan diri dari Indonesia pada tahun 1999 kini telah berdiri menjadi sebuah negara selama 22 tahun. Jumlah penduduk Timor Leste yang merupakan bekas provinsi ke 27 Indonesia itu nyatanya tidak lebih banyak dari jumlah penduduk Kota Bekasi.Penduduk Timor Leste hanya berjumlah 1,3 juta jiwa, sedangkan penduduk Kota Bekasi sebanyak 2,9 juta jiwa. Secara teori seharusnya Timor Leste memiliki kesejahteraan pendapatan percapita yang besar dengan jumlah penduduk yang relatif kecil tersebut.
Namun ternyata mengurus negara dengan penduduk kecil tidak selamanya mudah. Walaupun ada beberapa negara kecil seperti Singapura, Brunei, Qatar adalah beberapa contoh yang berhasil. Singapura diuntungkan dengan lokasinya yang strategis sedangkan Brunei dan Qatar diuntungkan dengan sumber daya migas yang melimpah. Namun yang terjadi di Timor Leste justru sebaliknya. PBB memasukan Timor Leste ke dalam daftar Indeks Kemiskinan Multidimensi Global di tahun 2020
Para peneliti mengatakan jika tidak menemukan ladang migas baru, sumber daya migas Timor Leste diprediksi habis di tahun 2027. Sedangkan sebagian besar ladang minyak mereka justru dikuasai oleh kontraktor-kontraktor asing seperti Conoco Phillips asal Amerika dan Shell asal Belanda yang melakukan kerjasama dengan Australia. Ladang minyak di Laut Timor ditemukan oleh kontraktor asal Australia, Woodside pada tahun 1974, dengan potensi omset lebih dari 50 Milyar US Dollar.
Australia membantu Timor Timur mendesak pemerintah Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi parah untuk menjalankan referendum. Hasilnya 78,5 persen warga Timor Timur yang pada saat itu juga terkena dampak krisis ekonomi 1998 memilih untuk berpisah dari Indonesia. Menurut dosen politik senior asal Australia Bec Strating, berbagai macam keterlibatan Australia di Timor Leste adalah demi mengamankan potensi migas di Laut Timor.
Sumber daya minyak di Timor Leste di Laut Timor atau sering disebut Blok Greater Sunrise, sejak tahun 2002 dibentuk sebuah perjanjian baru dengan pihak Australia. Sebagai balas budi bangsa Timor Leste terhadap Australia dibentuklah kerjasama pengelolaan minyak dengan perjanjian bagi hasil. Perjanjian Laut Timor ditandatangani Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri dan Perdana Menteri Australia John Howard. Perjanjian tersebut membagi pendapatan eksplorasi migas 90% untuk Timor Leste dan 10% untuk Australia.
Namun setelah beberapa tahun berjalan muncul ketidakpuasan pemerintah Timor Leste terhadap kerja sama tersebut. Timor Leste beranggapan perjanjian kerja sama tersebut lebih banyak menguntungkan pihak Australia. Perjanjian batas laut UNCLOS 6 Maret 2018 yang tidak kunjung juga diratifikasi oleh parlemen Australia, menyebabkan pihak Australia leluasa menyedot minyak dan gas di ladang Laut Timor yang seharusnya menjadi ZEE Timor Leste. Australia diduga telah menyedot jutaan dolar setiap hari dikarenakan molornya perjanjian batas laut maritim tersebut, yang seharusnya menjadi hak Timor Leste ujar Tom Clarke Juru Bicara Kampanye Keadilan Laut Timor.
Sekitar 78% total anggaran pemerintah Timor Leste tahun 2017 dibiayai oleh pemasukan sektor migas, Bahkan jumlahnya meningkat menjadi 90% dari total pemasukan anggaran Timor Leste di tahun 2020. Jika Timor leste tidak menemukan wilayah eksplorasi minyak baru, diprediksi sumber daya minyak Timor leste menipis bahkan habis ditahun 2027. Bahkan para peneliti memprediksi negara ini bakalan bangkrut di tahun tersebut. Itu artinya Timor leste hanya bisa bergantung dari pertanian dan perkebunan kopi yang memiliki kontribusi kecil terhadap negara. Apalagi negara ini memiliki iklim yang tandus dan kering sehingga sulit ditanami padi padian dan tanaman komoditas. Sektor pariwisata di timor leste pun belum bisa diandalkan karena minimnya kunjungan wisman ke negara tersebut. Timor Leste pun juga tidak memiliki jalur perdagangan yang strategis seperti halnya Singapura. Pemerintah Timor Leste tentu pusing mencari sumber ekonomi baru. Apalagi kini ekonomi negara tersebut tertekan dengan hutang besar dari Bank BUMN asal China.
Timor Leste sangat terobsesi dengan migas seperti halnya negara timur tengah. Proyek TASI MANE yang digadang gadang menjadi pusat pengolahan migas di darat nyatanya tak berfungsi. Jalan tol sepanjang 33 kilometer dibangun oleh konsorsium China dengan anggaran 500 juta dollar kini sepi tak ada kendaraan yang lalu lalang. Jalan tol ini tidak menuju kemana-mana, hanya menghubungkan Suai dengan jalan-jalan desa pertanian. Di musim hujan jalan tol ini seringkali tak bisa dilewati karena seringnya longsor di jalan tol tersebut.
Tak hanya jalan tol, pemerintah Timor Leste menghamburkan 120 juta dollar dari hutang untuk membangun bandara internasional Xanana Gusmao di pesisir selatan Timor Leste. Sebuah penerbangan pagi baru saja mendarat di bandara tersebut, dan hanya itulah satu satunya pesawat yang mendarat. Bahkan kursi tunggu Vivi aipi bandara kosong tak pernah terisi selama 15 hari dan penerbangan reguler baru ada empat hari kemudian. Menurut pakar Timor Leste asal Australia dari University of Australia, James Scambary, tak ada peluang nyata kedatangan lalu lintas udara di bandara tersebut.
22 Tahun kemerdekaan Timor Leste mereka masih terjebak kemiskinan parah dimana 50 persen warganya hidup dibawah garis kemiskinan dan 20 persen warganya tak memiliki pekerjaan. Lalu bagaimanakah nasib Timor Leste kedepannya? Haruskah mereka meminta bantuan kepada Australia?
https://www.youtube.com/channel/UCi3pAXML5HdBVDvbrQbbWFA
bmkhadafi
S1 FISIP
UI
Jgn lupa dukung chanel ini dengan cara yg sederhana
like dan subscribe kalian akan sangat membantu channel ini berkembang membagikan berbagai wawasan dunia.
Komentar
Posting Komentar